Woro-woro
Batik Yogyakarta
Batik adalah bahan kain tekstil hasil pewarnaan, menurut corak – corak khas Batik Indonesia (termasuk corak Yogyakarta) dengan menggunakan “Lilin batik” sebagai perintang.
Didalam rancangan Standar Nasional Batik Indonesia, yang disebut “Batik” adalah :
- BATIK TULIS adalah Batik yang dihasilkan dengan cara menggunakan “Canting Batik” sebagai alat bantu untuk melekatkan lilin pada kain.
- BATIKCAP adalah Batik yang dihasilkan dengan cara menggunakan “Cap Batik” sebagai alat untuk melekatkan lilin pada kain.
- BATIK KOMBINASI adalah Batik yang dihasilkan dari rangkaian kerja Batik Tulis dan Batik Cap.
Dalam beberapa catatan mengenai Batik orang mengatakan bahwa “Batik” dari kata bahasa jawa “Ambatik”, Amba berarti membuat/menulis dan “Tik” dari kata “Titik”, karena selalu membuat titik-titik dalam pengerjaannya maka disebut “Batik”.
Batik menurut ragam hias yang ada dapat dikelompokan menjadi dua :
- Kelompok Geometris, dimana ragam hiasnya tersusun bentuk yang sama dan berulang-ulang. Yang termasuk kelompok Geometris adalah Ragam Hias Ceplok dan Lerek. Misalnya Ceplok Gurdo, Kawung, Parang Rusak, Udan Liris, Tambal dan Rujak Shente
- Kelompok Non Geometris, contohnya adalah Semen, Lung-lungan dan Pinggiran.
Batik Yogyakarta merupakan salah satu pelopor Batik di jawa dan untuk lebih memahami Batik Yogyakarta haruslah mengenal lebih dahulu asal usulnya.
Pada tahun 1755 terjadi Perjanjian Giyanti dimana Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua yaitu Kasunan Surakarta dibawah Sri Sunan Pakubuwono ke III dan Kasultanan Yogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi (adik Sri Sunan Pakubuwono ke III) yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I. Dengan demikian Palih Nagari selanjutnya pusaka-pusaka juga mengalami hal yang sama, tetapi keprabon yang berupa busana, termasuk Batik-batiknya diboyong oleh Pangeran Mangkubumi semuanya dan hal itu sudah diizinkan juga telah menjadi kehendak Sri Sunan Pakubuwono ke III, sedangkan Sri Sunan membuat “Gagrak” (Corak Khas) tersendiri berbeda dengan yang sudah ada, sehingga Batik Kraton Mataram menjadi Batik Khas Kraton Yogyakarta.
Dalam penampilan kedua corak Batik yaitu Batik Corak Yogyakarta dan Surakarta terdapat perbedaan, akan tetapi juga terkadang ada kesamaannya karena berasal satu sumber yaitu Mataram.
Adapun perbedaannya yang sangat prinsip :
- Pewarnaan, Batik Yogyakarta berwarna biru, putih dan coklat sogan sedangkan Batik Surakarta berwarna kekuningan. Hal tersebut oleh karena pada proses “Mbabar” Batik Yogyakarta menggunakan kulit kayu pohon tinggi saja dan Batik Surakarta selain memakai kulit kayu pohon tinggi juga memakai kulit kayu lasem sehingga berwarna kuning.
- Dalam proses persiapan membuat pola Batik pada kain mori Batik Yogyakarta dan Surakarta.
a. Cara mengemplongnya (memukul-mukul kain mori dengan alat kemplong) berbeda
b. Kain mori Batik Surakarta diberi minyak kacang dan jeruk nipis dan “diuleni” (diremas-remas sampai meresap sehingga kain Batik Surakarta tersebut kelihatan berminyak)
Sedangkan persamaan keduanya mempunyai arti sama dalam filosofinya misalnya Sido Mukti, Sido Luhur dan sebagainya.
Motif-motif dan ragam hias Batik Surakarta dan Yogyakarta ada perbedaannya tetapi kadang-kadang ada persamaannya oleh karena keduanya berasal dari satu sumber yaitu Mataram.
Awalnya Batik Keraton tersebut hanya dibuat dilingkungan Kraton, akan tetapi oleh karena telah merambah di luar tembok Kraton yang dibuat dan dijadikan barang dagangan oleh para saudagar dan para petani di pedesaan, maka Batik Kraton telah memasyarakat dan rakyat ikut memilikinya.
Menurut sejarah yang terjadi, Batik Yogyakarta sangant berpengaruh pada ragam-ragam hias Batik pesisiran maupun pedalaman, misalnya Indramayu, Pekalongan, Lasem, Cirebon, Garut, Ciamis dan sekitarnya, Tegal, Banyumas, Cilacap, Sidoarjo, Tuban, Madura.
Hal tersebut disebabkan karena maju pesatnya perdagangan antar daerah, peperangan (Perang Diponegoro) dimana para pengikutnya / prjurit Kraton terpaksa bertempat tinggal didaerah medan peperangan yang kemudian mengembangkan Batik, juga karena adanya perkawinan para Bupati dengan Putri dari Kraton sehingga berkembanglah Batik setempat yang diwarnai ragam hias pengaruh Yogyakarta dan disesuaikan dengan selera daerah setempat.
Bahkan di luar jawa misalnya Jambi, Palembeng, Aceh. Kebanyakan usaha Batik dijalankan dan dibuat oleh para pendatang dari jawa, dengan demikian ragam hiasnya sangat terpengaruh oleh Batik Jawa termasuk Yogyakarta.
Pola Batik Yogyakarta menurut sejarah yang ada dengan demikian telah dikenal sejak zaman kerajaan Mataram kuno di bawah Panembahan Senopati. Pada waktu itu pembatikan berada di desa Plered yang hanya terbatas lingkungan Kraton saja yang hanya dikerjakan oleh wanita-wanita pembantu Ratu (para abdi dalem).
Seperti dikatakan oleh Rijcklof Van Goens, salah seorang yang pernah menjabat Gubernur Jendral di Jawa melaporkan pada tahun 1656 dilingkungan Kraton Mataram terdapat 4000 wanita mengerjakan pekerjaan di dapur, memintal, menenun, menyulam, menjahit dan melukis. Dan yang dimaksud melukis adalah membatik karena pada waktu itu belum dikenal “cat” dan istilah membatik juga belum memasyarakat.
Nilai-nilai filosofi yang disandang oleh Batik-batik di Indonesia termasuk Batik Yogyakarta adalah mampu membedakan dengan Batik luar negri sehingga mampu menjadi daya saing bangsa dan maka dari itu perlu terus dilestarikan dan dijunjung tinggi.
Pola Batik Yogyakarta tersusun dari ragam hias asli jawa yang dipandu dengan kebudayaan Hindu, Budha, Belanda, Islam dan Cina. Akan tetapi dengan adanya akulturasi tersebut Batik Yogyakarta semakin tampak indah.
Batik dari jaman dahulu telah menjadi “piranti” untuk melaksanakan upacara-upacara adat misalnya dalam upacara “Labuhan” di Kraton Yogyakarta yang dilaksanakan dibeberapa tempat yang penting untuk Kraton maupun Mataram (Gunung Merapi, Gunung Lawu, Parang Kusumo). Arti “Labuhan” itu sendiri adalah “membuang” dan menurut Kawedanan Hageng Punokawan Widyo Budaya Kraton Yogyakarta, Labuhan adalah ungkapan rasa syukur atas segala yang telah didapat dan suatu bentuk permohonan keselamatan kepada Yang Maha Kuasa dengan membuang piranti-piranti yang disiapkan, selain Batik-batik juga terdapat kain-kain celup seperti Bangun Tulak dan lain-lain.
Labuhan ada dua macam yaitu :
- Labuhan “alit” Batik yan menjadi piranti ada tiga motif yaitu Cangkring, Poleng, dan Kawung Kemplong. Upacara ini diselenggarakan satu tahun sekali pada bulan Rajab (kalender jawa).
- Labuhan Ageng selain tiga motif kain tersebut diatas ditambah satu motif yaitu Motif Limar atau Limaran yang diselenggarakan setiap delapan tahun sekali pada tahun Dal atau Wawu.
Motif Batik Nitik merupakan sesuatu hal yang sangat istimewa karena hanya dibuat di Yogyakarta. Motif Batik Nitik awalnya timbul karena pada jaman dahulu ketika pemerintah Belanda yang menggantikan VOC di jawa memberhentikan impor barang dari India maka kain Patola (Cinde) sangat langka di jawa padahal sang pemakai (Raja dan para bangsawan) telah terlanjur menggemari kain tenun Patola dari India tersebut sehingga para putri Kraton dan para seniman Kraton terpacu untuk membuat pola Batik yang sesuai dengan motif kain Patola tersebut yang kemudian dikembangkan menjadi motif yang mempesona.
Sampai sekarang motif “Nitik” tetap dilestarikan dan tercatat sekitar 70 motif Nitik. Motif Nitik tersebut di Yogyakarta dibuat di desa Wonokromo yakni di Imogiri sebelah selatan.
Beberapa motif Batik Nitik yang selalu dipakai dalam upacara karena mempunyai arti filosofi misalnya :
- Motif Gempol
- Motif Nogosari
- Motif Cakar Ayam
Perlu diketahui bahwa di daerah Pekalongan juga dibuat motif seperti Nitik dengan warna pesisiran dan disebut Jlamprang.
Di Yogyakarta terdapat beberapa jenis corak Batik bila ditinjau dari ragam hiasnya antara lain :
- Batik Pura Pakualaman. Pada awalnya juga sama coraknya dengan Batik Kraton akan tetapi Sri Pakualaman yang ke VII setelah memperistri putri Kraton dari Surakarta kemudian corak Batiknya berubah yakni adanya penggabungan ragam hias Kraton Yogyakarta dan Surakarta atau bercorak Yogyakarta tetapi diberi warna kekuningan seperti corak Surakarta.
- Batik Saudagaran. Yaitu Batik yang dibuat oleh saudagar-saudagar untuk diperdagangkan dan motif-motif yang dikembangkan adalah Motif Batik Kraton Yogyakarta misalnya Batik yang dibuat oleh Haji Bilal.
- Batik Pedesaan. Yaitu Batik yang dibuat oleh para petani seiring dengan Batik Saudagaran dan dibuat dengan menampilkan flora dan fauna setempat.
- Misalnya Batik Mangiran, Sanden membuat Batik Galaran, Batik Cacah Gori
- Batik Imogiri
Selanjutnya walaupun Batik Klasik Yogyakarta tetap eksis sebagai kekayaan hasil seni Batik yang Adiluhung tetapi saat ini oleh para pengrajin maupun para seniman dikembangkan sedemikian rupa sehingga tercipta Batik Kontemporer, misalnya antara lain Batik Apip oleh Apip’s dari Yogyakarta.
Artikel - Kesenian



